Blusukan Bersama Ratu Dewa: Menata Wajah Palembang, Menjaga Kesehatan Warga, hingga Memperjuangkan Pendidikan Anak Miskin

by -296 Views

Palembang – Jarum jam menunjukkan pukul 07.30 WIB, Senin (19/10/2026). Matahari pagi belum terlalu terik. Namun, aktivitas Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, sudah dimulai. Bukan dari balik meja kerjanya di kantor pemerintahan, melainkan langsung di tengah kehidupan masyarakat.

Tak ada apel panjang. Tidak pula seremoni penyambutan. Pagi itu, orang nomor satu di Kota Palembang tersebut memilih menjalankan aktivitas kantornya dengan cara berbeda: turun langsung ke lapangan, menyusuri sejumlah sudut kota, memastikan berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat mendapat perhatian.

Mobil yang ditumpanginya pertama kali berhenti di median Jalan Wahid Hasyim–Rasyid Siddiq, tepat di depan Kantor Camat Seberang Ulu (SU) I. Di kawasan Kertapati itu, sejumlah taman median jalan tengah ditata agar lebih indah dan tertata.

Ratu Dewa mengamati langsung pekerjaan penataan tersebut. Baginya, pembangunan kota bukan semata-mata tentang proyek besar, jalan lebar, atau gedung megah. Ada hal-hal sederhana yang juga memiliki arti penting bagi kenyamanan masyarakat, salah satunya ruang terbuka hijau dan keindahan lingkungan perkotaan.

Dari Kertapati, perjalanan berlanjut menyusuri koridor Jalan A. Yani hingga Jalan Panjaitan di kawasan Plaju. Sejumlah titik menjadi perhatian dalam upaya mempercantik wajah Kota Palembang.

“Kalau tamannya cantik, hati warga yang lewat juga senang. Kota ini wajah kita,” katanya.

Pernyataan itu menggambarkan bahwa penataan kota bukan sekadar urusan estetika. Lingkungan yang bersih, hijau, dan tertata merupakan bagian dari kualitas hidup masyarakat sekaligus cerminan identitas sebuah kota.

Namun, pagi itu agenda Ratu Dewa tidak berhenti pada urusan mempercantik wajah Palembang. Ada persoalan lain yang jauh lebih mendasar, yakni memastikan masyarakat tetap bisa menghirup udara yang sehat di tengah ancaman kabut asap.

 

Menjaga Paru-Paru Kota dan Kesehatan Warganya

Dari taman-taman median jalan, perhatian Ratu Dewa beralih pada ancaman asap yang kembali menghantui sejumlah wilayah.

Kali ini, tujuannya adalah Ruang Aman Asap, sebuah fasilitas perlindungan bagi masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, balita, lansia, dan warga yang memiliki risiko gangguan pernapasan.

Ia menyambangi lantai dua Kantor Camat Sematang Borang dan Kantor Lurah Talang Jambe. Kedua fasilitas tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kota Palembang bersama Relawan KitaBisa.

Di dalam ruangan yang dilengkapi pendingin udara dan alat pemurni udara atau air purifier, Ratu Dewa melihat langsung kesiapan fasilitas tersebut. Ia bahkan mencoba kursi yang disediakan untuk balita dan lansia.

Baginya, keberadaan Ruang Aman Asap tidak boleh hanya menjadi fasilitas formal. Tempat tersebut harus benar-benar siap dimanfaatkan masyarakat ketika kualitas udara memburuk.

Pemkot Palembang sendiri telah menyiapkan 42 Puskesmas di seluruh wilayah kota sebagai Ruang Aman Asap. Dengan demikian, masyarakat memiliki lebih banyak akses untuk mendapatkan perlindungan sementara dari paparan udara yang tidak sehat.

“Dari urusan paru-paru kota berupa taman, sekarang kita jaga paru-paru manusianya. Jangan sampai anak-anak kita sesak karena asap,” ucapnya.

Ada pesan penting dari rangkaian kunjungan tersebut. Penataan lingkungan dan perlindungan kesehatan masyarakat merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kota yang indah tidak akan berarti banyak apabila warganya harus berjuang menghadapi ancaman polusi udara.

Setelah Udara, Giliran Air yang Harus Dijaga

Perjalanan belum selesai. Setelah memastikan kesiapan fasilitas perlindungan asap, Ratu Dewa kembali bergerak menuju persoalan klasik yang kerap menghantui Palembang ketika musim penghujan tiba: genangan dan banjir.

Kali ini, ia menyambangi kawasan KM 12 dan Lorong Garuda 1 untuk melihat langsung kondisi kolam retensi, drainase, serta anak sungai.

Di sejumlah titik, ia tidak sekadar berdiri mengamati. Ratu Dewa bahkan turun dan berjongkok untuk melihat lebih dekat kondisi saluran air yang mengalami pendangkalan akibat endapan lumpur.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius. Sebab, saluran air yang tidak berfungsi optimal dapat menghambat aliran air hujan dan meningkatkan risiko genangan di kawasan permukiman.

Persiapan menghadapi musim penghujan, menurutnya, harus dilakukan sejak dini. Normalisasi saluran, pemeliharaan drainase, hingga memastikan fungsi kolam retensi menjadi pekerjaan yang tidak bisa ditunda.

“Habis kita jaga udara, sekarang kita jaga air. Kalau drainase mampet, akan berdampak kepada aktivitas warga, karena tidak lama lagi musim hujan akan turun,” tegasnya.

Peninjauan ini sekaligus memperlihatkan bahwa persoalan banjir tidak cukup diselesaikan ketika air sudah menggenangi jalan dan rumah warga. Langkah antisipasi harus dilakukan melalui pemeriksaan langsung terhadap infrastruktur pengendali air.

Di kota seperti Palembang, yang memiliki banyak anak sungai dan kawasan permukiman, fungsi drainase dan kolam retensi menjadi bagian penting dalam menjaga aktivitas masyarakat tetap berjalan.

Momen Paling Mengharukan: Laptop untuk Anak dari Keluarga Sangat Miskin

Setelah menyusuri taman kota, memeriksa fasilitas perlindungan asap, dan melihat kondisi saluran air, agenda Ratu Dewa hari itu ditutup dengan sebuah kegiatan yang menghadirkan suasana berbeda.

Bukan lagi persoalan infrastruktur atau lingkungan, melainkan masa depan generasi muda Palembang.

Dari kawasan saluran air dan drainase, ia bergerak menuju gang-gang permukiman di belakang Kantor Lurah 1 Ulu dan Jalan Panca Usaha, kawasan Jalan Baru.

Di tempat itu, puluhan anak berseragam sekolah dasar dan sekolah menengah pertama telah menunggu. Mereka merupakan anak-anak dari keluarga kategori Desil 1, yakni kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.

Di hadapan anak-anak tersebut, pemerintah menghadirkan bantuan yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, tetapi memiliki arti besar bagi mereka: laptop dan kuota internet gratis.

Bantuan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Palembang, Telkomsel melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), serta Dinas Pendidikan Kota Palembang.

Sebanyak 2.500 unit bantuan berasal dari CSR Telkomsel, sementara 1.500 lainnya disiapkan melalui Dinas Pendidikan. Dengan total 4.000 bantuan, ribuan anak dari keluarga kurang mampu diharapkan memperoleh kesempatan lebih baik untuk mengikuti perkembangan pembelajaran berbasis digital.

Di antara anak-anak yang menerima bantuan, seorang siswa kelas VI sekolah dasar tampak memeluk laptopnya erat-erat.

Ratu Dewa menghampiri siswa tersebut. Ia menepuk pundaknya, seolah memberikan pesan bahwa perangkat yang kini berada di tangannya bukan sekadar barang elektronik, melainkan sarana untuk membuka kesempatan meraih masa depan.

Namun, di balik kebahagiaan hari itu, masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan.

Berdasarkan data yang disampaikan Ratu Dewa, terdapat sekitar 11.000 anak dari keluarga Desil 1 yang membutuhkan dukungan perangkat pembelajaran. Artinya, bantuan 4.000 unit yang tersedia saat ini masih menyisakan kebutuhan sekitar 7.000 unit.

Pemerintah Kota Palembang berencana mengalokasikan anggaran untuk memenuhi kekurangan tersebut melalui APBD 2026.

“Kebutuhan kita masih banyak. Total ada 11 ribu anak Desil 1 yang butuh. Yang kurang 7 ribu lagi akan kita anggarkan di APBD 2026. Insyaallah tidak ada satu pun anak Palembang yang tertinggal belajar hanya karena tidak punya laptop,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa pemerataan pendidikan tidak cukup hanya dengan memastikan anak-anak mendapatkan bangku sekolah.

Pemerintah juga perlu memperhatikan ketersediaan sarana pendukung pembelajaran, terutama di tengah perkembangan teknologi dan tuntutan pendidikan digital.

Bagi keluarga mampu, laptop mungkin merupakan perangkat yang sudah biasa tersedia di rumah. Namun, bagi keluarga yang masuk kategori sangat miskin, kepemilikan perangkat tersebut masih menjadi persoalan tersendiri.

Karena itu, bantuan ini bukan sekadar pembagian barang, melainkan upaya mengurangi kesenjangan akses pendidikan antarkelompok masyarakat.

Dari Persoalan Kota hingga Masa Depan Generasi Muda

Hari itu, Ratu Dewa menempuh rangkaian agenda yang mempertemukan berbagai persoalan mendasar perkotaan.

Mulai dari penataan taman di median jalan, perlindungan kesehatan masyarakat dari ancaman asap, kesiapan infrastruktur menghadapi musim hujan, hingga pemerataan akses pendidikan bagi anak-anak keluarga kurang mampu.

Empat persoalan dengan karakter berbeda, tetapi memiliki satu benang merah: bagaimana memastikan pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat.

Taman yang tertata menghadirkan lingkungan yang lebih nyaman. Ruang Aman Asap menjadi perlindungan bagi kelompok rentan.

Drainase dan kolam retensi yang berfungsi baik membantu mengurangi risiko genangan. Sementara laptop dan kuota internet membuka peluang bagi anak-anak dari keluarga miskin untuk memperoleh akses pembelajaran yang lebih setara.

Rangkaian kunjungan tersebut juga memperlihatkan bahwa persoalan pembangunan kota tidak selalu bisa diselesaikan hanya melalui laporan administratif.

Ada kondisi yang harus dilihat langsung, ada fasilitas yang perlu diperiksa, dan ada kebutuhan masyarakat yang harus didengar dari dekat.

Dari median jalan hingga gang sempit permukiman, dari ruang berpendingin udara hingga saluran air berlumpur, Ratu Dewa berupaya memastikan berbagai program pemerintah berjalan sesuai kebutuhan di lapangan.

Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya seberapa banyak program yang direncanakan atau anggaran yang dibelanjakan. Lebih dari itu, seberapa besar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

Dan di antara seluruh agenda hari itu, mungkin ada satu pesan yang paling kuat: sebuah kota tidak hanya harus dibangun agar terlihat indah, tetapi juga harus mampu melindungi kesehatan warganya, memberikan rasa aman, serta memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan.

 

Palembang bukan hanya tentang jalan, taman, gedung, dan sungai. Palembang juga tentang manusia yang hidup di dalamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.